Saat senja melukis langit yang rapuh, Aku duduk di antara daun yang jatuh. Angin membawa bisikan samar namamu, Seperti lagu lama yang pernah kau dendang. Di lorong waktu yang tak berujung, Aku menunggu, meski kutahu itu sia-sia. Jejakmu lenyap, tinggal bayang yang kabur, Namun hatiku tak pernah lelah mencarimu. Kau pergi seperti hujan di tengah musim, Meninggalkan dingin tanpa pelukan. Aku mencari di setiap sudut kenangan, Namun bayangmu hanya singgah di angan. Dalam remang cahaya lilin yang redup, Kulihat bayangmu menari di balik dinding. Namun saat aku mendekat, kau memudar, Seperti kabut pagi yang dikejar mentari. Hati ini seperti gitar tanpa dawai, Tak mampu memetik nada yang kau tinggalkan. Langit terlalu jauh untuk kugapai, Namun namamu tetap kuucap dalam diam. Kau pergi seperti hujan di tengah musim, Meninggalkan dingin tanpa pelukan. Aku mencari di setiap sudut kenangan, Namun bayangmu hanya singgah di angan. Jika waktu bisa memutar arah, Aku akan menahanmu di sini, di pelukanku. Namun kau adalah angin yang tak terikat, Terbang bebas, jauh meninggalkanku. Kau pergi seperti hujan di tengah musim, Meninggalkan dingin tanpa pelukan. Aku mencari di setiap sudut kenangan, Namun bayangmu hanya singgah di angan. Dan di malam yang sunyi, Aku masih bernyanyi untukmu. Mungkin suaraku akan sampai, Menemanimu, walau hanya di langit kelam. Kau pergi seperti hujan di tengah musim, Meninggalkan dingin tanpa pelukan. Aku mencari di setiap sudut kenangan, Namun bayangmu hanya singgah di angan. Dan di malam yang sunyi, Aku masih bernyanyi untukmu. Mungkin suaraku akan sampai, Menemanimu, walau hanya di langit kelam. Dan di malam yang sunyi, Aku masih bernyanyi untukmu. Mungkin suaraku akan sampai, Menemanimu, walau hanya di langit kelam.