*(Verse 1)* Lagi duduk santai, tiba-tiba kau datang, Dengan jokes jadul yang bikin telinga tegang. “Kopi-kopi yuk, tapi jangan kopi paste,” Kami cuma senyum tipis, bingung harus apa. Katanya lucu, tapi kami tak paham, Kenapa punchline-nya terasa tenggelam. Bukannya marah, cuma bingung di hati, Apa kami harus pura-pura menikmati? *(Chorus)* Candaan bapak-bapak, beda frekuensi, Kami generasi muda, kadang tak mengerti. Jangan paksa kami tertawa bahagia, Kalau itu bukan selera kami sebenarnya. *(Verse 2)* “Kura-kura dalam perahu,” kau bilang dengan bangga, Kami berusaha, tapi tertawa tak ada. Beda generasi, beda selera, Tolong pahami, kami butuh ruang juga. Kami hormati kalian dengan segan, Tapi candaan ini bikin otak jadi span. Bukan soal hormat atau enggan tertawa, Hanya soal rasa yang tak sama nada. *(Chorus)* Candaan bapak-bapak, beda frekuensi, Kami generasi muda, kadang tak mengerti. Jangan paksa kami tertawa bahagia, Kalau itu bukan selera kami sebenarnya. *(Bridge)* Kami tak benci, kami tak marah, Hanya bingung harus tertawa atau pasrah. Ada saatnya, dunia butuh jeda, Untuk saling mengerti perbedaan rasa. *(Outro)* Candaan bapak-bapak, tetaplah begitu, Mungkin suatu hari kami akan mengerti itu. Tapi untuk sekarang, beri kami ruang, Biar tawa kami tetap alami dan tenang.