Di balik senyummu yang tak pernah pudar. Ada cerita lelah yang tak pernah kau ungkap. Kau dekap aku saat dingin menerpa. Meski kau sendiri menggigil tanpa alas. Kau ajarkan aku langkah pertama. Di jalan berdebu tanpa alas kaki. Tanganmu kasar, penuh luka dan goresan. Tapi pelukanmu hangat, melindungi mimpi. Ibu, kasihmu seluas samudera. Tak pernah surut walau ombak menerpa. Kau relakan semuanya, demi masa depanku, Cintamu abadi, takkan tergantikan waktu. Saat malam tiba, kau masih terjaga, Menjahit asa di bawah cahaya lampu redup. Perutku kenyang, kau menahan lapar, Hanya doa yang jadi penguat hatimu. Kini aku berdiri di atas mimpi ini, Namun semua ini tak lepas darimu. Aku tahu kau tak pernah meminta lebih, Hanya melihatku bahagia, itu cukup bagimu. Ibu, kasihmu seluas samudera. Tak pernah surut walau ombak menerpa. Kau relakan semuanya, demi masa depanku, Cintamu abadi, takkan tergantikan waktu. Maafkan aku jika sering lupa, Betapa besar arti kehadiranmu. Doamu adalah tameng di setiap langkahku, Tanpa kau, aku takkan mampu berdiri. Ibu, kasihmu seluas samudera. Tak pernah surut walau ombak menerpa. Kau relakan semuanya, demi masa depanku, Cintamu abadi, takkan tergantikan waktu. Kini biar aku yang menjagamu, Membalas cinta yang tak pernah pudar itu. Meski takkan cukup seumur hidupku, Pelukanmu, Ibu, adalah surgaku.