Saat malam menurunkan tirai gelap,
Cinta menghujam hatiku, seperti panah yang terbang.
Dunia berputar kencang, bagaikan badai yang menggulung,
Hilang dalam kelam, seolah tak pernah ada.
Tatapanmu menyihir jiwa, seperti embun di pagi hari,
Mimpi dari masa lalu, menari dalam ingatan.
Jantungku berdetak tak terkendali,
Dunia terbalik, menelan semua harapan.
Dalam kegelapan kita berpadu,
Jeritan hati tak terbendung, laksana suara ombak.
Seperti kisah yang terulang,
Deja vu cinta, menggema dalam hening.
Dalam bayang malam, kita terhubung,
Cinta yang membara, seperti api yang takkan padam.
Setiap detak jantung, menambah rasa sakit,
Kegelapan mengelilingi, tapi kita adalah cahaya.
Memburu kenangan yang tak pernah jelas,
Mencari cahaya di antara reruntuhan jiwa.
Teriakan jiwa, tak akan terdiam,
Deja vu cinta, mengajak kita kembali ke pelukan.
Menggambarkan kenangan perih,
Saat engkau dalam bayang-bayang, seperti ilusi.
Takdir bermain-main dengan hati,
Bermula lagi tanpa belas kasih, seperti badai yang datang.
Darah dan air mata bercampur,
Romansa kelam yang abadi, seperti tinta di kertas.
Cinta selalu kembali,
Mengambil jiwa yang tersisa, bagaikan ombak yang tak berhenti.
Hutan malam saksi bisu,
Rasa cinta yang menderu, seperti suara angin.
Mentari pun tenggelam malu,
Gelap menyelimuti tubuh, seolah waktu terhenti.