Ndan ndan? Dengarkan, ndan
Pihak lawan telah gencar tebar ancaman
Kita ganyang dengan benar benar di hadapan
Tulang dan darah buat sarapan
Tank pesawat, kapal perang kita punya
Bang!! Mental dan jangan heran kita kuat.
Jangan ragu jangan takut walau langit awan kabut
Berhadapan satu satu, lawan pasti kalang kabut
Lemparkan bom, langsung kokang senjata.
Untuk musuh jangan sampai utuh bikin merata
Tanpa segan, yang didepan semua keparat.
Pantas diburu dan pantas dimusnahkan.
Atas nama negara, kini aku bersumpah
Ku bela tanah air walau darah harus tumpah.
Tangan lumpuh atau tak berfungsi.
Perang adalah jalan saat tutup usaha runding.
Dan Perang tinggalkan Luka
Dan Perang tinggalkan Duka
Ku jalani hari susah
dendam dan amarah
Perang tlah usai yang ku tanam kini ku tuai
Aku kembali tapi anak istri mati. Dan Aku terkulai
Lemas tak berdaya. Ku tak percaya ku tlah diperdaya oleh negara untuk kepuasan penguasa
hingga aku kehilangan keluarga.
Ahh aku menggila yang kupunya tiada
Ahh aku menghila semua hancur tak tersisa
Ahh aku menggila yang kupunya tiada
Ahh aku benar benar
Tangan aku hilang, keluarga di liang. Para warga hanya pasang bendera setengah tiang. Dari
malam ke siang, cuma makan “kasihan”. Tuhan tolong semua yang kupunya dikembalikan.
Persetan tanda jasa, penghargaan di dada. Jika semuanya yang ku punya telah tiada. Ku benar
benar sedih, benar benar sepi. Rindu antar anak dan masakan enak sang istri. Benarkah ini?
Kenapa gini? Isi rumah yang utuh buat aku jadi iri. Resah tak berhenti, dan ku tak mengerti.
sangat Menyeramkan bila hanya tinggal sendiri.
Yang ku minta cukup semua kembali utuh
Seperti dulu…
Hanya penyesalan yang tampak
Kini, Hanya penyesalan yang tampak kini