Duduk di tahta, berpura-pura bijaksana,
Melihat rakyat dirantai, dijerat tanpa makna.
Pinjol liar menggila, memakan yang lemah,
Pengawas diam membisu, menutup mata dan telinga.
Peraturan jadi senjata tanpa peluru,
Mereka tertawa, kebal di balik baju semu.
Sementara korban merintih dalam gelap,
Hukum mati, dikebiri hingga lenyap!
Di balik jubahmu, hanya ada kosong,
Tak berdaya, membiarkan monster merajong!
Chorus:
Pecahkan kaca topengmu yang rapuh!
Pengawas buta tak mampu meredam musuh!
Tangis rakyat membanjiri jalanan,
Kau diam, membiarkan penjajah berjalan!
Palu keadilan kini berkarat dan lumpuh,
Kertas hukum kosong tak ada suara yang utuh.
Penguasa birokrasi cuma boneka tanpa jiwa,
Menyaksikan jeritan sambil menutup mata.
Keadilan dibeli dengan uang kotor,
Kepentingan mengalir bagaikan racun di lorong.
Di mana taring yang dulu kau janjikan?
Kini tinggal bayangan, tak lebih dari ilusi kelam!
Kami muak dengan omong kosongmu!
Saatnya membakar semua dustamu!
Chorus:
Pecahkan kaca topengmu yang rapuh!
Pengawas buta tak mampu meredam musuh!
Tangis rakyat membanjiri jalanan,
Kau diam, membiarkan penjajah berjalan!
Hancur!
Singgasana penguasa palsu!
Rebut!
Keadilan yang mereka rampas!
Teriak!
Kebangkitan api perlawanan!
Ini akhir, waktumu sudah habis!
Chorus:
Pecahkan kaca topengmu yang rapuh!
Pengawas buta tak mampu meredam musuh!
Tangis rakyat membanjiri jalanan,
Kau diam, membiarkan penjajah berjalan!
Hancur sudah kepercayaan ini,
Tinggal abu dari janji yang basi!
Pengawas tak bergigi, hanya bayang-bayang,
Kami bangkit melawan, menuntut keadilan yang hilang!