Yo, ini cerita tentang api yang membara,
Dalam diri manusia, nafsu jadi bara.
Kadang ia kawan, sering jadi musuh,
Mengintai dalam gelap, seperti bayangan rapuh.
Nafsu itu arus deras, sungai tanpa tepi,
Jika ku tak waspada, aku tenggelam, mati.
Ia bagai serigala, berbulu domba suci,
Di balik manisnya, ada racun yang tersembunyi.
Anganku terbang tinggi, bagai layang-layang,
Tapi benangnya rapuh, putus di tengah jalan.
Ku coba kendalikan, tapi seringkali kalah,
Karena nafsu adalah badai, menghantam tanpa salah.
Nafsu itu cermin, memantul tanpa nyata,
Ia bayangan malam, menghilang saat fajar tiba.
Jangan biarkan ia jadi raja dalam hati,
Kendalikan sebelum hidupmu jadi sepi.
Nafsu bagai api, menghangatkan dan membakar,
Memberi sinar kecil, tapi bisa hanguskan sadar.
Ia serupa emas, kilau yang memikat,
Tapi jika dikejar, bisa terjebak dalam gelap.
Angan jadi gunung, ku panjat tanpa tali,
Nafsu bisikkan janji, tapi akhirnya sunyi.
Bagai fatamorgana, ia tampak nyata,
Tapi saat ku dekati, ia hilang tanpa sisa.
Nafsu itu cermin, memantul tanpa nyata,
Ia bayangan malam, menghilang saat fajar tiba.
Jangan biarkan ia jadi raja dalam hati,
Kendalikan sebelum hidupmu jadi sepi.
Ku tahu, nafsu itu badai dalam jiwa,
Menggoda seperti madu, tapi racun di akhirnya.
Ku harus berdiri, lawan api yang bergejolak,
Dengan iman ku basahi, biar tenang, biar senyap.
Bagai perahu kecil di tengah samudera,
Ku cari arah angin, biar selamat di dermaga.
Yo, ini lagu untuk jiwa yang gelisah,
Untuk mereka yang tersesat, tapi ingin berbenah.
Nafsu itu ada, tak bisa dihindari,
Tapi jangan biarkan ia jadi tuan dalam diri.