Di permukaan yang tenang,
Teratai mekar perlahan.
Namun di bawah sana,
Air keruh menyimpan luka.
Aku teratai yang diam di kolam,
Menatap langit tak tersentuh angan.
Kau hadir bak angin malam,
Menembus relung hati yang perlahan pudar.
Bersamamu, dunia terasa mekar,
Tapi akarku terjerat di lumpur.
Uh.. meski kelopak ini tersenyum,
Aku tahu ada dinding yang tak bisa ku runtuhkan.
Kau cahaya yang ku pandang dari jauh,
Tapi sinarmu tak pernah bisa ku rengkuh.
Di bawah langit yang berkilau merah,
Kita hanyalah mimpi yang terpisah.
Dalam dekap malam kau buatku lupa,
Tapi tiap fajar realita kembali menggema.
Aku terjebak dalam ikatan lama,
Namun bersamamu hati ini terus berbunga.
Bersamamu, setiap hembusan terasa benar,
Namun ku tahu, kita tak bisa melawan arus deras.
Di setiap senyum yang kita bagi,
Ada bayang yang s'lalu menghantui.
Kau cahaya yang ku pandang dari jauh,
Tapi sinarmu tak pernah bisa ku rengkuh.
Di bawah langit yang berkilau merah,
Kita hanyalah mimpi yang terpisah.
Meski aku tak bisa merengkuhmu,
Kau tetap terpatri di hatiku.
Bagaikan bintang di angkasa,
Kau bersinar tapi tak tersentuh nyata.
Aku teratai di kolam yang keruh,
Menanti angin walau tak pernah tersentuh.
Kita cinta yang tak pernah utuh,
Namun di dalam hati, kau selalu tumbuh.