Verse 1:
Di dunia yang terhubung, data mengalir bebas,
AI jadi sahabat, tapi kadang jadi musuh, jebakan penuh resah,
Mata kita terfokus ke layar, dunia di ujung jari,
Tapi hati masih kosong, seiring kita tenggelam dalam ilusi digital, wah!
Kita berpikir cepat, tapi kenapa masih merasa lambat?
Mau sukses, tapi harga diri jadi taruhannya,
Teknologi bantu kita terbang, tapi kadang bikin jatuh,
Kendali hilang, semua diputus oleh sistem yang serba otomatis.
Chorus:
Masa depan datang, kayak kilat yang nyerang,
Teknologi bawa kita terbang, tapi siapa yang tahan?
Kita terjebak dalam permainan yang gak jelas,
AI atur jalan kita, tapi apa kita masih punya suara?
Verse 2:
Kehidupan di dunia maya, avatar lebih nyata,
Tapi realita, hati masih kesepian, penuh luka,
Keputusan dibuat dalam kode, algoritma yang berbicara,
Masa depan di tangan mesin, tapi apa yang kita inginkan?
Pekerjaan hilang, digantikan tangan robot,
Manusia jadi penonton, tapi otak masih berpikir,
Kita berjalan di tepi jurang, maju tapi gak tahu arah,
Mimpi jadi data, semuanya bisa dijual, termasuk cinta.
Chorus:
Masa depan datang, kayak kilat yang nyerang,
Teknologi bawa kita terbang, tapi siapa yang tahan?
Kita terjebak dalam permainan yang gak jelas,
AI atur jalan kita, tapi apa kita masih punya suara?
Bridge:
Inovasi tanpa henti, dunia berubah setiap detik,
Kita jadi bagian dari puzzle, tapi siapa yang pegang kunci?
Manusia atau mesin, siapa yang akan bertahan?
Kecepatan tinggi, tapi apa yang kita cari di sana?
Outro:
Masa depan di depan mata, tapi apakah kita siap?
Teknologi terus melaju, namun hati kita nggak ikut,
Jangan biarkan AI jadi tuhan, kita masih punya suara,
Bersama, kita bentuk dunia, jangan biarkan mesin yang menentukan kita.